Selasa, 06 Maret 2012

TUGAS 1


1)   Jelaskan apa yang dimaksud dengan Ilmu Budaya Dasar dan tujuannya !
Jawab :
Ilmu Budaya Dasar adalah pengetahuan yang dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan kata lain Ilmu Budaya Dasar dikatakan Basic Humanities -> The Humanities ( Humanus ) yang artinya manusia berbudaya dan halus yang berkaitan dengan nilai-nilai manusia.
Tujuan dari Ilmu Budaya Dasar :
Mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik menyangkut orang lain dan alam sekitarnya maupun yang menyangkut dirinya sendiri.
untuk bisa menjangkau tujuan Ilmu Budaya Dasar. Diharapkan dapat :
1. Mengusahakan penajaman kepekaan terhadap lingkungan budaya.
2. Mengembangkan daya kritis terhadap masalah kemanusian dan budaya.
3. Sebagai calon pemimpin bangsa dan Negara dan ahli dibidangnya.
4. Mengusahakan wahana komunikasi.

2)  Jelaskan dua pandangan yang menjelaskan unsur-unsur manusia
Jawab :
1.     Manusia terdiri dari empat unsur :
·        Jasat
·        Hayat
·        Ruh
·        Naf
2.     Manusia sebagai suatu kepribadian mengandung tiga unsur :
a.      Id : merupakan struktur kepribadian yang paling primitif ( pemuasan kebutuhan )
b.     Ego : merupakan bagian atau struktur kepribadian yang mengatur tingkah laku
c.      Super Ego : merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, yang dipengaruhi eksternal, yang menunjukan pola aturan yang dalam derajat tertentu menghasilkan kontrol diri melalui sistim imbalan dan hukuman yang terintermalisasi

Suku Polahi



Menurut cerita, polahi  adalah masyarakat pelarian zaman dahulu yang melakukan eksodus ke hutan karena takut dan tidak mau dijajah oleh Belanda sehingga menjadikan mereka sebagai suku terasing sampai dengan saat ini.
Suku Polahi ini tinggal di hutan gunung Boliyohuto Kabupaten Gorontalo kendati demikian sangat sukar bagi kita  untuk menjumpai mereka. Ini dikarenaka polahi sulit menerima kehadiran orang luar sekalipun sesama warga Gorontalo.  Sikap antisosial ini lebih disebabkan trauma masa lampau .
Ini pula yang menyebabkan mengapa literatur yang mengangkat penelitian mengenai masyarakat polahi masih jarang dijumpai.
Jika menelusuri sejarah perjuangan rakyat Gorontalo dalam mengusir penjajah, ternyata terdapat benang merah yang dapat ditarik untuk mengetahui bagaimana suku polahi pertama kali muncul. Pemerhati sejarah Gorontalo MUHTAR UNO dalam hasil studi  yang dipublikasikan  secara online dapat dilihat bahwa masyarakat Gorontalo adalah masyarakat yang memiliki jiwa patriotisme yang sangat tinggi sehingga mereka rela mengasingkan diri  dihutan dengan alasan menolak kerja paksa dan tuntutan membayar pajak kepada kompeni.
Secara terperinci ia memaparkan bahwa perlawanan rakyat Gorontalo terhadap kaum penjajah sudah dimulai sejak Raja Eyato menjadi raja di Gorontalo pada tahun 1673 sampai 1679 Masehi.
Kala itu Raja Eyato berusaha menghalang-halangi belanda  mendarat di Gorontalo dengan membakar perahu-perahu mereka dan tidak mengizinkan pasukan belanda untuk mengambil air minum di muara sungai bone. Hanya karena kelicikan belanda dengan berpura-pura mengajak berunding yang menyebabkan perlawanan rakyat terhenti karena Eyato ditangkap dan diasingkan.  Kendati demikian perjuangan tidak terputus karena penerusnya raja Biya dengan gigih menentang kehadiran orang asing yang ingin merampas kekayaan alam milik penduduk pribumi.
Akhirnya setelah sekian lamanya bertempur menentang Belanda, Raja Biya bersama anak buahnya ditangkap belanda tahun 1690 dan raja Biya diasingkan ke Seylon dan pengikutnya Isnaeni di buang ke Afrika selatan.  Sedangkan dua pendekar lainnya Apitalau dan Ilato mengihilang entah kemana,sehingga ia berkesimpulan, Apitalau dan Ilato bersama seluruh prajuritnya melarikan diri ke hutan kemudian menjadi polahi.
Untuk membuktikan pendapatnya itu hal itu MUHTAR UNO sempat menyaksikan sendiri benda-benda yang diperlihatkan seseorang kepadanya dimana benda-bendat tersebut diberikan oleh bekas polahi.  Tiga macam benda itu adalah azimat, keris, dan tembaga yang berbentuk kubus dengan panjang rusuk 5 centimeter dan pada salah satu sisi kubus tertulis dengan huruf timbul VOC dan tahun 1690 sehingga bukan tidak mungkin benda tersebut merupakan benda yang diwariskan secara turun temurun oleh Prajurit Raja Biya yang melarikan diri ke hutan karena benda tersebut diberikan oleh orang yang dulunya adalah polahi



Terlepas dari itu semua yang pasti adalah suku polahi ini ada karena mereka tidak meng-inginkan hidup dalam kungkungan penjajahan.  Karena itulah mereka disebut sebagai Polahi  yaitu dari bahasa Gorontalo yang berarti pelarian. Kehidupan mereka sangat jauh dari peradaban modern, mereka tinggal dibawah bebatuan atau gua, di pondok bahkan diatas pohon.
Suku terasing polahi didalam hutan umumnya mereka hidup berpencar dalam kelompok-kelompok kecil.  Mereka terdapat di hutan di Kecamatan Paguyaman, Boliyohuto dan Suwawa. Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo telah meng-identifikasi masyarakat polahi dengan kelompok 9, kelompok 18, kelompok 21 atau kelompok 70 berdasarkan jumlah anggota kelompok dalam satu kampung.  Mereka hidup bercocok tanam, berburu babi hutan dan belum mengenal pakaian dan hanya mengenakan penutup syahwat dari daun palma dan kulit kayu.  Rumah mereka sederhana, tidak berdinding dan untuk mencapai ke lokasi perkampungan polahi harus menempuh perjalanan kaki selama tujuh jam.  Kehidupan primitif tergambar pula pada hubungan sedarah dimana hubungan dapat terjadi antara ayah dengan anak perempuannya, atau ibu dengan anak laki-lakinya bahkan antar seseama saudara kandung.
Jelas bahwa budaya ini sangat bertentangan  dengan ajaran agama bahkan sangat dilarang karena dalam Islam dikenal konsep muhrim yang mengatur hubungan sosial antara individu yang masih terhitung dalam kekerabatan.   Penelitian menunjukan bahwa hubungan sumbang ini berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah baik fisik maupun mental.  Kondisi tersebut terjadi karena keterbelakangan  tidak hanya karena keterpencilan melainkan tidak tersentuh yang namanya pendidikan bahkan dalam kebudayaan mereka  tidak dikenal hitung menghitung dan nama-nama hari.   Angka maksimum yang dapat mereka hitung adalah empat selebihnya adalah banyak.
Contoh diatas sedikitnya memberikan gambaran bagaimana kehidupan polahi.   Mereka sangat jauh mengasingkan diri dengan dunia luar bahkan boleh dikatakan sangat menutup diri dengan perkembangan.  Sangat berat bagi pemerintah  dalam memajukan masyarakat Polahi ini dengan mengintegrasikannya dengan pembangunan manusia indonesia se utuhnya.
Suku terasing di Gorontalo atau lazim disebut Polahi saat ini keberadaannya sangat terpinggirkan bahkan nyaris sangat sulit tersentuh program pemerintah.  Berangkat dari persoalant ersebut pemerintah kabupaten Gorontalo tetap berusaha melakukan pendekatan agar kehidupan suku polahi yang mengsingkan diri dengan hidup dihutan dapat ber-sosialiasi dengan masyarakat disekitarnya. Tercatat jumlah polahi di Kabupaten Gorontalo masih cukup banyak dan menurut Bupati Gorontalo DAVID BOBIHU, tentu ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk mengangkat derajat dan martabat kehidupan mereka.  Untuk itu pemerintah  Kabupaten Gorontalo memfasilitasi dengan menikahkan secara masyarakat Polahi dengan masyarakat umum secaa massal sekaligus menyediakan rumah layak huni seperti yang diungkapkan bupati DAVID BOBIHU AKIB
Selain itu pemerintah Kabupaten Gorontalo mendatangkan tenaga ustads yang akan memberikan pendidikan dan pembinaan agama Islam terhadap suku terasing polahi yang telah ber-asimiliasi dengan masyarakat umum.
Dengan demikian kata Bupati secara bertahap masyarakat Polahi yang masih mengasingkan diri diharapkan sudah dapat membuka diri dan bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. Jumlah pasangan dari suku terasing yang dinikahkan secara massal dengan masyarakat umum itu sebanyak 13 pasangan dan telah diberikan Kartu Tanda Penduduk KTP secara gratis oleh Pemerintah Kabupaten Gorontalo.

sumber :






Senin, 05 Maret 2012

kamera Bukan Mimpi




  Hidup di Jakarta mungkin terlihat sulit jika tidak ada usaha dan hanya jadi pengangguran. Untuk seorang pengamen jalanan seperti Dio mungkin tidak begitu sulit. Jakarta keras, tapi bisa ia takhlukan. Jakarta itu kejam, tapi tidak untuk Dio yang memiliki seorang ibu yang sangat sayang dengannya. Dio hidup di Jakarta hanya bertiga dengan ibu dan adiknya. Ayahnya telah meninggal dunia dua tahun yang lalu karena sakit. Merantau dari pulau sebrang, mengadu nasip di Jakarta yang penuh dengan kemewahan. Kuliah hanyalah mimpi untuknya, jangankan untuk kuliah, bisa makan tiga kali sehari itu sudah kenikmatan untuk Dio dan keluarganya. Sejak kecil ia bermimpi mempunyai kamera, selalu ia berharap bisa berfoto sekeluarga didepan Monumen Nasional. Tapi kenyataannya lain, ayahnya telah meninggal dunia sebelum ia sempat memiliki kamera dan berfoto bersama. Untuk sebuah kamera yang sangat mahal harganya, Dio hanya bisa menabungkan uang hasil mengamen di celengan ayam yang ia beli diwarung dekat rumahnya. Dia berharap suatu hari nanti ia bisa memiliki kamera itu. Ya, suatu hari nanti.

            Pagi yang cerah, Dio sudah bersiap membersihkan gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu yang akan ia pakai untuk menghibur pendengarnya. Sebelum berangkat, ia membantu sang ibu merapihkan dagangan yang akan dijajakannya di kereta api. Sayur matang yang dijualnya mungkin tidak bisa membelikannya kamera, tapi syukurlah itu sudah cukup untuk bersekolah adiknya yang masih duduk dibangku sekolah dasar dan membayar uang kontrakan yang lumayan besar jumlahnya.

Lampu merah adalah nafas untuk seorang pengamen jalanan, termasuk Dio. Menyanyikan satu buah lagu,dan berharap bakatnya bisa dihargai. Panas adalah teman, hujan adalah kawan. Semua ia lakukan untuk membantu ibunya yang sudah tua. Keringat tidak ada artinya asal ia bisa melihat sang ibu bisa tersenyum setiap hari.
Ia yakin suatu hari nanti ia bisa membahagiakan sang ibu dan adik perempuannya. Membelikan sebuah rumah, tak perlu mewah asalkan bisa melindungi dari panasnya terik matahari dan dinginnya air hujan. Semangatnya tak pernah pupus untuk menjadikan adiknya berguna bagi nusa dan bangsa. Harapannya ia bisa melihat adiknya tersenyum memakan toga saat sarjana dan berfoto satu keluarga dengan kamera yang ia punya. Dua hal yang membuat ia bisa bertahan hingga saat ini, yaitu usaha dan doa.
Berdoa dan berusaha, hanya itu yang bisa ia lakukan. Nama ibu dan adiknyalah yang selalu terdengar disetiap pintanya kepada Tuhan. Berharap kedua harta berharganya itu selalu bisa bersamanya sampai nanti, ia tak bernafas lagi.

            sore menjelang malam mengakhiri perjuangan Dio hari ini. ia segera kembali kerumah dan melaksanakan kewajibannya selaku umat muslim. Dalam doanya terdengar suara dan tangisan kecil yang ia panjatkan kepada Tuhan “Tuhan, tak ada yang aku pinta kecuali kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi. Melihat ibu dan adikku tersenyum adalah cahaya terindah yang pernah aku lihat. Hanya satu pintaku Tuhan, jangan ambil mereka sebelum aku sempat membahagiakannya” . tetesan air mata yang jatuh adalah tanda betapa sungguhnya ia meminta. Ibunya yang tak sengaja mendengar doanya pun segera memeluknya. Tiada kehangatan yang pernah ia dapatkan selain pelukan seorang ibu.

Keesokan harinya ..

Ia mengamen di sebuah rumah makan yang ada diperempatan Kemang Jakarta Selatan. Menyanyikan sebuah lagu yang sangat merdu. Membuat salah satu pengunjung rumah makan terhenyuh mendengar keindahan suaranya. Tanpa disangka itu adalah seorang produser. Dio segera diajaknya mengobrol empat mata dan ditawarkannya tawaran yang sangat fantastis , yaitu rekaman. Ya itu adalah mimpi Dio sejak dahulu.

“ini mimpi atau aku berhayal Tuhan?” gumamnya dalam hati

Tanpa basa-basi Dio menerima tawaran itu dengan senang hati

            Empat bulan berlalu, hasil rekaman Dio sudah mulai bisa dinikmati oleh penikmat musik. Radio, televisi bahkan media masa. Hari demi hari kesuksesannya mulai terlihat, orang-orang semakin mengenal siapa itu Dio Handika. Seorang pria pengamen jalanan kini beralih menjadi penyanyi solo yang terkenal dan sukses.

Kesuksesannya kini telah ia nikmati. Ia membangun sebuah rumah yang cukup besar, membeli mobil, dan membeli kamera. Akhirnya perjuangan selama ini tidak sia-sia. Sekarang kamera bukanlah sekedar mimpi. Kini kamera menjadi sesuatu yang nyata untuknya. Seperti mimpinya dulu, ia mengajak ibu dan adiknya pergi ke Monumen Nasional untuk berfoto. Dibingkainya hasil jepretan itu, dipandanginya setiap waktu. Senang, tapi sedih. Berfoto bersama keluarga, tapi tanpa Ayah.

“mungkin aku emang belum sempat membahagiakan ayah, memeluk ayah dalam bahagiaku saat ini. kesuksesan yang aku raih tanpa ayah. Foto yang indah sekeluarga tanpa ayah, maaf ayah, selama aku hidup aku belum bisa membahagiakan ayah. Tapi aku janji aku akan membahagiakan ibu dan adik kecilku. Ayah yang tenang disana, seandainya aku bisa membangun rumah yang indah untuk ayah disana, akan kubuatkan rumah untuk ayah dengan cat warna biru muda seperti harapan ayah. Tapi kenyataannya beda, hanya doa yang bisa aku kirimkan untuk ayah. Aku sayang ayah” , kata Dio sambil memeluk bingkai Foto yang ada dimeja kamarnya.

Pesan dari cerita ini, berusahalah karena didunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Sukses adalah keharusan. Setelah sukses, bahagiakanlah orang tua selagi kita bisa dan kita mampu. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Bahagiakan secepatnya orang-orang yang kita sayangi selagi masih ada hayatnya.



Sabtu, 28 Januari 2012

Kekasih Untuk Kekasihku


Kekasih Untuk Kekasihku

Namaku Elisa, aku adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Dikampus aku memiliki sahabat bernama Fika. Dia sahabatku sejak SMP. Kebetulan kami selalu menuntut ilmu ditempat yang sama dari SMP hingga sekarang. Aku dan Fika sudah seperti saudara sendiri. Kami sangat akur. Dibalik kebahagiaanku itu, aku memiliki seorang kekasih bernama Reno yang juga menambah lengkap kebahagiaan hidupku. Aku bertemu dengannya saaat pertama kali masuk kuliah. Sekarang kami semester 5, jadi bisa dibilang hubungan kami sudah cukup lama.
Rintik hujan terus membasahi kampus kami, jam 3 sore seharusnya waktu untuk pulang karena sudah tidak ada kelas tetapi hal ini membuat aku dan pacarku Reno untuk tetap berdiam dikampus hingga hujan reda. Lelah dan lapar membuat kami tak sabar untuk menunggu hujan reda. Akhirnya aku mengajak Reno nekat menerjang hujan.

“langsung pulang aja yu”

“ini kan masih hujan, nanti kamu sakit” kata Reno sembari memainkan kunci motor

“engga ko, lagi juga cuma gerimis aja kan” kataku sambil melihat kelangit

“yaudah, nih kamu pake jaket aku” kata Reno sambil mengenakan jaketnya kepundakku

Akhirnya kita berdua jalan menuju parkiran kampus
Sesampainya diparkiran kampus, Reno segera menyalakan motornya dan bergegas untuk mengantarku pulang. Diperjalanan aku yakin sekali Reno sangat kedinginan, bajunya basah karena jaketnya dia pinjamkan untukku. Aku sangat menyesal karena telah memaksa dia untuk menerjang hujan.

“Reno, aku minta maaf ya gara-gara aku kamu jadi kedinginan”

“ga apa-apa ko sayang” jawabnya singkat

Tanpa basa-basi aku langsung memeluk Reno dari belakang. Reno yang sedang kedingin pun segera memegangi tanganku yang berada diperutnya.



Dua puluh menit berlalu, tibalah aku dan Reno dirumah. Saat tiba dirumahku Reno langsung aku berikan handuk dan menyuruhnya untuk ganti pakaian. Kebetulan kakak aku laki-laki sehingga bajunya bisa aku pinjamkan untuk Reno. Kebetulan kak Andra memilki postur badan yang sama seperti Reno, tinggi, berisi dan dadanya bidang.

Setelah membuatkan teh, aku segera menuju ruang tamu. Aku lihat Reno masih kedinginan, terlihat dari tangan dan bibirnya yang begitu pucat. Karena aku takut sekali jika ia sakit, aku langsung berikan dia obat. Tetapi dia tidak mau. Dia bilang dia sudah membawa obat sendiri. Aku jadi heran mengapa akhir-akhir ini Reno sering sekali membawa obat jika kekampus atau berpergian. Reno juga sering mengeluh jika kepalanya sakit. Belakangan ini Reno juga sering mimisan. Aku takut terjadi apa-apa dengan Reno. Dalam hati aku ingin mencari tahu apakah yang sedang terjadi padanya.

“sayang, belakangan ini aku melihat kamu agak aneh. Kamu sakit ya? Kenapa kamu ga pernah cerita sama aku?”

“sakit? Emangnya kamu liat aku seperti orang sakit? Aku sehat-sehat aja ko”

“kamu jangan bohong ya sama aku” kataku sambil menatap dalam matanya

“aku sehat, sehat banget sayang”jawabnya sembari mencubit pipiku

Cukup lama kami mengobrol dan bercanda-canda, akhirnya Reno pamit untuk pulang. Rasanya baru sebentar aku bersamanya.

Keesokan harinya…
            Reno meneleponku pagi-pagi, dia bilang dia tidak bisa berangkat kekampus dan menjemputku. Katanya dia ingin mengantarkan keluarganya ke bandara. Memang beberapa hari yang lalu Reno cerita jika keluarganya ingin berangkat ke Singapore untuk menghadiri acara pernikahan saudaranya disana. Tetapi Reno terpaksa tidak bisa ikut kesana sebab dia masih ada Ujian Akhir Semester. Aku sangat mengerti keadaan dia, maka dari itu aku pergi kekampus sendiri.

Saat dikampus aku bertemu dengan Fika, Fika mengajakku main ke Mall Of Indonesia  untuk mengantarnya membeli baju baru. Disana Fika bercerita jika dia sedang jatuh cinta, tetapi anehnya dia tidak memberitahu dengan siapa iya jatuh cinta. Ya karena dia bilang itu rahasia, aku tidak bisa memaksanya.

Lama kami berjalan-jalan di Mall, akhirnya kami pulang. Tetapi hari ini Fika mengajakku main kerumahnya. Dia menyuruhku membantu membuatkan tugas proposal yang akan dikumpulkan minggu depan. Mau tak mau aku harus membantunya.
Saat Fika sedang membuatkan minuman, tak sengaja aku melihat buku diary yang berada dibalik selimut. Dengan perlahan aku membacanya. Isinya sungguh mencengangkan.

Dua tahun lebih aku memendam perasaan ini. Perasaan yang menurutku sangatlah tidak pantas. Bagaimana tidak, aku mencintai seorang lelaki yang sudah memiliki kekasih. Parahnya lagi kekasih itu adalah sahabatku sendiri Elisa. Aku sungguh mencintai Reno. Dulu, belum sempat aku ceritakan semua perasaanku, aku dengar kabar bahwa mereka sudah jadian. Tepat satu hari aku ingin meceritakan semua ini kepada Elisa. Sekarang semua sudah terlanjur, aku terlalu bodoh untuk terus menahan perasaan ini. Tapi aku sungguh mencintai Reno, tetapi dibalik itu semua aku sungguh sayang Elisa. Persahabatan yang membuat aku kuat, rasa cinta yang membuat aku bertahan dalam kebodohan ini. Aku tak peduli betapa sakit luka yang aku rasakan, yang aku pedulikan hanya kebahagiaan mereka, orang-orang yang sangat aku sayangi


Tanpa sadar aku mengeluarkan air mata, betapa bodohnya aku telah menyakiti sahabatku sendiri. Tapi ya memang ini semua karena aku tidak mengetahui apa-apa soal perasaan Fika. Aku harus bagaimana tuhan? Aku sayang keduanya, aku tak ingin kehilangan keduanya.
Aku segera mengembalikan diary itu ketemoat semula. Aku hapus air mata yang ada dipipiku. Aku melanjutkan mengetik tugas proposal. Aku anggap semua tadi hanyalah hayalanku saja.

“kreeeekkk…”  terdengar Fika membuka pintu kamarnya. Dia membawakan dua gelas berisikan orange juice dan beberapa cemilan

“Fik, istirahat dulu. Eh, lo nginep aja disini. Gue sendirian nih” ajak Fika

“yah gue ga bisa, abis ini gue langsung pulang aja yah. Kasian pembantu gue sendirian. Nyokap belum balik dari Yogya”

“yaudah deh terserah lo” jawab Fika dengan nada kecewa

Tak terasa hari sudah sore, waktunya aku untuk pulang. Fika mengantarkanku pulang sampai pertigaan Mampang, selebihnya aku pulang dengan taksi.
Belum sampai dirumah tiba-tiba Reno meneleponku. Katanya dia sakit, dirumah tidak ada orang kebetulan keluarganya sudah berangkat ke Singapore dan pembantu pun ijin mudik karena ada keluarganya yang sakit. Tanpa basa-basi aku segera putar arah menuju Pondok Indah tempat kediaman Reno.

Sesampainya dirumah Reno, aku lihat dia sedang terkulai lemas. Wajahnya pucat seperti orang sedang kesakitan.

“Ren, kamu kenapa? Wajah kamu pucat, hidung kamu berdarah Ren. Aku panggilkan dokter ya” ajakku panik

“ga usah sayang, aku udah punya obatnya kok dari dokter” jawabnya santai

“yaudah kamu minum ya obatnya ( mengambil obat yang berada diatas meja)”

Saat aku membuka obatnya, aku menemukan secarik kertas. Tetapi Reno menahanku saat aku ingin mengambil kertasnya yang jatuh kelantai. Tetapi karena penasaran, aku tampis tangan Reno. Perlahan-lahan aku buka kertas itu. Sebuah kertas dari laboraturium yang bertuliskan :

“ saudara Reno Aldiansyah positif menghidap penyakit kanker darah stadium 3 “

Dengan tangan gemetar dan air mata yang berlinang, aku segera memeluk Reno. Aku dekap erat seakan itu adalah hari terakhirku bersamanya. Aku menangis sejadi-jadinya didepan dia. Tetapi dia selalu berkata “aku sehat sayang, dokter salah mendiagnosa”. Aku tahu Reno adalah seseorang yang sangat kuat, dia selalu tampak tegar sekalipun dia sedang ada masalah. Aku semakin sayang dengan Reno.

“kamu kenapa nangis? Kamu ga percaya sama aku? Aku sehat” katanya sambil menggengam erat tanganku

“aku takut kehilangan kamu, aku takut kalo kita ga bisa bersama-sama lagi. Aku takut suatu saat nanti tuhan memisahkan kita. Aku takut Reno aku takut”

Tanpa berkata-kata lagi Reno segera memelukku sambil berkata “kamu ga usah takut, aku akan selalu disini sama kamu. Aku bakal terus disamping kamu sampe kita sarjana, sampe kita nikah, sampe kita punya anak, sampe kita tua”

Mendengar kata-kata itu, hatiku langsung tenang. Kata-kata itu meyakinkan aku bahwa Reno akan hidup seribu tahun lagi.

Hari ini sungguh hari yang sangat dramatis



Keesokan harinya,
Semalam Mama baru saja pulang dari Yogya, Mama masuk kekamarku membicarakan hal penting. Sebentar lagi perusahaan Papa akan bangkrut, maka dari itu Mama menyuruh kami semua untuk pindah ke Yogya. Mama menyuruh aku dan kak Andra untuk kuliah disana bersama Bude. Rasa sedih, kesal, kecewa jadi satu. Apa jadinya jika aku pindah ke Yogya sementara pacarku sedang sakit Parah di Jakarta. Tetapi jika aku tetap berada disini, aku telah mengecewakan Mama. Bermacam ide bermunculan di otakku. Bermacam pemikiran gila melintas dibenakku, dan … akhirnya aku menemukan jalan keluarnya.

Keesokan harinya dikampus,
“Fika, ada hal penting yang ma gue certain sama lo”

“apa?” jawab Fika bingung

“maaf sebelumnya gue udah lancang, kemaren ga sengaja gue nemui diary lo dibawah selimut kamar lo, dan tanpa sengaja juga gue baca dilembaran paling akhir. Sekarang gue tau kalo lo sayang sama Reno. Gue ga marah sama lo Fik, sedikitpun gue ga marah kalo lo suka sama Reno. Gue malah seneng Fik, dengan begitu semakin banyak orang yang sayang sama Reno. Gue pengen Fik lo tunjukin ke Reno kalo lo sayang sama dia. Gue sadar kayanya perhatian gue ke dia itu kurang. Dia lagi butuh banget perhatian Fik. Kalo Cuma gue sendiri, kayanya itu belum cukup. Gue mau lo sama gue mencintai dia sama-sama, menyayangi dia sama-sama. Plis Fik gue mohon”

“Lo lancang Lis” jawab Fika ketus sekaligus kaget

“gue minta maaf Fik, tapi ini bukan waktunya kita bertengkar. Gue pengen lo ikutin kemauan gue. Gue ada masalah keluarga, dalam waktu dekat ini gue bakal pindah ke Yogya. Gue kuliah disana dan bakal tinggal selama-lamanya disana. Gue yakin Fik jarak antara Jakarta dan Yogya bakal ngancurin semuanya”

“Lis, lo gila? Hey dimana otak lo? Gue ini sahabat lo yang bodoh Fik, harusnya lo marah sama gue, harusnya lo benci sama gue. Gue gak pantes disebut sahabat. Lagi juga itu kan masalah jarak aja, lo masih bisa kan telponan atau komunikasi lewat jejaring sosial” jawab Fika sambil menggebrak meja kantin

“Fika denger Fika, Reno sakit. Dia sakit parah, dan lo tau apa? Reno kena kanker darah! Dan lo tau apa? Kanker darah stadium 3. Itu artinya hidup Reno udah ga lama lagi. Ga mungkin kan gue disana bisa fokus perhatiin dia”

(Kami berdua saling diam)

Mencoba berpikir jernih, mencoba menemukan jalan keluarnya
Akhirnya kami pun berinisiatif untuk memberikan perhatian Reno dengan cara menjadikan Fika sebagai kekasihnya Reno juga. Dengan begitu aku bisa sedikit tenang karena Reno dirawat oleh dua orang yang sangat mencintainya.
Besoknya kami bertemu di salah satu lestoran cepat saji. Aku, Fika dan Reno. Duduk ssmbil berdiam diri memikirkan apa yang akan dibicarakan. Ide bodohku membuat Reno menjadi ketus dan tak ingin berbicara denganku
.
“kalian udah tau kan maksud gue apa?” kataku membuka pembicaraan

(Fika dan Reno tetap diam)

“Lusa aku udah engga ada diJakarta, aku tau ini terlalu cepat dan ga pernah kalian duga. Aku juga gak pernah menduga bahwa semuanya akan seperti ini. aku harus kuliah dan hidup di Yogya untuk selamanya. Sungguh dengan berat hati aku meninggalkan kalian orang-orang yang aku sayangi di Jakarta. Tapi tenang, kita masih bisa berhubungan kok. Masih ada jejaring social dan handphone. Reno, aku mau kamu jadiin Fika pacar kamu yang kedua. Aku iklas Ren, kamu sayang kan sama aku? Kalo kamu emang sayang, kamu bisa kan Menuhin permintaan aku?” kataku sambil menatap dalam matanya

“kalo kamu emang udah bosen, yaudah bilang aja putus ga usah cari-cari alesan. Kamu malu kan punya pacar yang penyakitan kaya aku? Kamu malu kan punya pacar yang hidupnya udah ga lama lagi , orang yang hidupnya bergantung sama obat? Iya? “ jawab Reno ketus

“aku sayang Ren sama kamu tapi … “ 


belum sempat aku meneruskan kata-kata, Reno langsung bericara,
“oke kalo itu kemauan kamu, aku ikutin. Mau kamu sekarang aku nembak Fika iya? Jadii dia pacar kedua aku iya? Tapi kalo aku ga bisa sayang sama Fika, jangan paksa aku. Jangan salahin aku kalo aku sayangnya Cuma sama kamu” jawab Reno dengan mata yang berkaca-kaca.

“Fik, lo mau kan jadi pacar gue?” kata Reno yang menyatakan cinta ke Fika didepan aku

Fika langsung melirik kearahku dengan mata yang berbinar-binar “ iya Ren gue mau jadi pacar kedua lo”

Aku tersenyum puas walaupun kenyataannya hatiku sangat sakit. Mulai sekarang aku dan Fika resmi menjadi kekasihnya Reno. Dengan begitu aku bisa tenang di Yogya. Aku tidak begitu khawatir akan keadaan Reno di Jakarta. Karena sekarang ada Fika yang akan merawat Reno. Demikianlah kisah dua orang sahabat yang rela berbagi hati, bukan karena kita serakah, melainkan membahagiakan orang yang kita cintai. Seharusnya cinta sejati seperti ini, merelakan kebahagiaan kita sendiri demi membahagiakan orang yang kita cintai. Walaupun kelihatannya egois, memaksakan perasaan orang lain demi keinginan kita, tapi dibalik itu semua ada makna dari sebuah pengorbanan dan ketulusan. Cinta dan kebahagiaan memang tidak harus selalu bersama, tetapi keduanya saling berhubungan berjalan beriringan.

Rabu, 04 Januari 2012

Hubungan Generasi Muda Untuk Masyarakat

                                       PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK




      

          semakin banyaknya jumlah masyarakat yang ada dibumi, semakin banyak pula kebutuhan yang harus dipenuhi. biasanya kebutuhan manusia itu pasti identik dengan penggunaan plastik. contohnya ibu rumah tangga membutuhkan detergen untuk mencuci maka ia akan membeli detergen. detergen itu sudah pasti dikemas dalam sebuah plastik. biasanya plastik itu akan berakhir di tempat sampah yang jelas-jelas sudah tidak dibutuhkan lagi. siapa bilang sampah adalah sesuatu yang tak berguna? ditangan-tangan kreatif limbah plastik ini bisa dijadikan sebuah karya yang dapat berguna untuk masyarakat. contohnya limbah plastik bekas kemasan sabun detergen, mie instan atau chiki bisa didaur ulang menjadi tas jinjing atau tas laptop. generasi muda seperti inilah yang bisa menghasilkan uang dengan karyanya sendiri.  selain bisa menghasilkan uang, kreatifitas remaja seperti ini juga bisa menanggulangi penumpukan sampah non-organik yang ada dilingkungan masyarakat.



bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan tas plastik ini sangatlah mudah. hanya membutuhkan limbah sampah plastik, lem perekat, renda-renda dan pita untuk hiasan, dan yang terakhir adalah jarum, dan benang dengan warna-warna yang unik. butuh keahlian khusus untuk membuat karya seperti ini. maka dari itu biasanya para remaja mengikuti bimbingan-bimbingan sebelum mencoba untuk membuatnya. jika sudah ahli, maka hasilnya akan cantik sekali.








 Jika sudah ahli, maka hasil karya dapat dipasarkan. dengan membuka bazar atau pameran akan lebih memudahkan untuk memasarkan hasil karya unik tersebut.

 

tidak semua yang kita anggap sudah menjadi sampah adalah sesuatu yang tidak berguna, jika sampah tersebut jatuh ketangan yang tepat maka sampah tersebut dapat menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual tinggi. jadilah remaja yang kreatif, yang bisa berguna untuk diri sendiri ataupun masyarakat sekitar. semangat ! :)

Jumat, 25 November 2011

tugas softskill


Persamaan Hak dan Derajat Didalam Masyarakat Indonesia

Setiap warga negara pasti memiliki hak masing-masing, karena pada dasarnya manusia memiliki hak yang telah ada sejak ia lahir yang melekat pada dirinya. Beberapa hak itu dimiliki tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama atau kelamin, karena itu bersifat asasi serta universal. Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam berbagai sektor kehidupan. Hak inilah yang banyak dikenal dengan Hak Asasi Manusia.
Hidup dinegara hukum pastinya diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara. Maka dari itu mengenai persamaan derajat dan hak, diantaranya tercantum di UUD 1945 pasal 27 ayat 2 , 28, 29 ayat 2 , dan 31.
Pasal 27 ayat 2 menjelaskan = “segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada pengecualian”. Jadi disini menjelaskan bahwa warga negara tidak dibedakan atas hukum, semua disama rata. Tidak memandang apakah itu pemerintah atau rakyat biasa, kaya atau miskin, punya jabatan atau tidak.
pasal 28 menjelaskan = ”kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan oleh UU “. Disini menjelaskan bahwa di Indonesia dibebaskan untuk mengeluarkan pendapat, pikiran atau sejenisnya. Maka dari itu dibolehkanlah untuk mengadakan demo, mimbar bebas atau sejenisnya. Karena Indonesia adalah negara demokrasi.
Pasal 29 ayat 2 menjelaskan = “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya”. Jadi disini warga negara Indonesia bebas untuk memeluk agama yang mereka yakini karena tidak adanya diskriminasi agama.
Pasal 31 menjelaskan = “hak asasi mengenai pengajaran yang berbunyi (1) tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran, dan (2) pemerintahan mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan UU”. Disini dijelaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menuntut ilmu, memiliki hak untuk belajar. Contohnya yaitu diadakannya program pemerintah untuk wajib belajar sembilan tahun tanpa biaya.

Jadi kesimpulannya setiap warga negara di Indonesia memiliki hak dan derajat yang sama, tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya.

Sabtu, 19 November 2011

Resensi Film " Rumah Tanpa Jendela "


RESENSI FILM “RUMAH TANPA JENDELA”

Genre : Drama Musikal 
Sutradara : Aditya Gumay
Ide Cerita : Asma Nadia
Penulis Skenario : Adenin Adlan dan Aditya Gumay
Produser : Adenin Adlan dan DR. Seto Mulyadi
Produksi : Smaradhana Pro
Diperankan oleh :
Dwi Tasya ( Rara ) , Ingrid Widjanarko ( si Mbok ) ,Ozan Ruz ( Adam ) , Rafi Ahmad ( Raga, ayah Rara ) , Yuni Shara ( budenya Rara bernama Asih ) , Varissa Camelia ( bu Alya ) , Emir Mahira ( Aldo) , Aswin Fabanyo ( pak Syahri ) , Alicia Djohar ( nyonya Ratna ) , Atie Kanser ( nek Aisyah )
Film ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Rara dari keluarga yang kurang mampu. Rara bekerja sebagai tukang ojek payung . ia sangat menginginkan mempunyai sebuah jendela rumah, ia sangat menginginkan rumahnya mempunyai jendela untuk melihat kedunia luar. Hanya satu, ia menginginkan rumahnya mempunyai jendela walaupun hanya satu. Karena satu jendela pun sampai saat ini belum bisa ia dapatkan. Keinginan Rara itu menjadi virus yang menularkan keteman-temannya agar bisa mempunyai jendela rumah juga.

Suatu hari saat Rara sedang mengojek payung, ia tertabrak oleh mobil yang dikendarai oleh supirnya Aldo saat pulang dari sanggar lukis. Supir Aldo tidak melihat bahwa Rara sedang berada dibelakang mobil, sehingga saat mobilnya mundur Rara tertabrak dari belakang. Saat kejadian itu Rara menjadi kenal dan dekat dengan Aldo. Sampai Aldo mau menyumbangkan buku-buku bekas yang sudah tidak terpakai kesebuah perkampungan kumuh. Adam ikut mengantarkan Aldo menyumbangkan buku, disitu tidak sengaja Adam bertemu dengan ibu Alya dan lama kelamaan Adam menyukainya.
Raga, ayah Rara yang seorang penjual ikan hias dan tukang sol sepatu berusaha untuk mewujudkan impian anaknya untuk mempunyai jendela rumah. Karena ketiadaan biaya, Raga membuatkan jendela rumah hanya dalam bentuk lukisan. Rara sangat kecewa, karena jendela itu palsu. Hanya sebuah lukisan dan tidak bisa dibuka untuk melihat ke luar. Akhirnya Raga tetap berusaha untuk membahagiakan anaknya, ia menukarkan sebuah ikan ketukang kusen untuk ditukarkan dengan sebuah kusen jendela seperti apa yang Rara mau. Tetapi apa daya, kebakaran telah merenggut semuanya.
 
Bersamaan dengan kebakaran yang terjadi di Kampung Pulo tempat kediaman Rara dan ayahnya, Rara dan teman-temannya merayakan ulang tahun kakaknya Aldo yang bernama Andini. Kejutan dari Rara, teman-temannya dan nenek Aisyah justru membuat Andini marah besar. Ia tak menyukai itu semua.
Setelah kejadian itu, masalah muncul bertubi-tubi. Kepedihan yang mendalam dialami Rara, karena ayahnya meninggal dunia, Si Mbok masih koma dirumah sakit karena menderita TBC, Aldo pergi dari rumah karen ia tidak suka kepada ibunya yang telah menuduh Rara dan teman-temannya yang telah mencuri berlian ibunya. begitulah yang dialami para pemainnya. Semua berakhir sangat dramatis. Film ini benar-benar mengharukan dan penuh dengan air mata.